Cari Blog Ini

Minggu, 26 November 2017

Selamat Hari Guru Nasional


Artikel tentang Hari Guru Nasional

Di indonesia, tak asing lagi bahkan sudah melekat kuat di telinga masyarakat dengan nama atau istilah “guru”. Yang mana dapat kita ketahui bersama bahwa peran seorang guru amatlah vital demi regenerasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang berharkat dan bermartabat. Mengingat, guru adalah seorang yang begitu berjasa dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Namun, dengan tekad dan semangat serta gigih dalam berjuang yang mereka miliki, secara langsung maupun tidak langsung mereka dapat mewujudkan hal tersebut. Sehingga, sampai hari ini para gurulah yang mempunyai andil dan peran besar terhadap kemajuan dan pembentukan karakter anak bangsa.

Terlepas dari itu semua, pada tanggal 25 November 2017 baru saja di peringati sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Namun,  jangan lupa bahwa HGN tidak akan dapat tercipta atau dapat kita kenal sampai hari ini ketika tidak ada sejarah yang mendasarinya. Artinya bahwa sejarah guru itu sifatnya sangat kompleks sekali. Karena tanpa adanya sejarah, tidak akan mungkin pada tanggal 25 November kita kenal sebagai hari guru nasional.

Maka, sudah sepatutnya pada momentum hari guru nasional ini sedikit banyak mari merenungi dan mengenang betapa besar jasa-jasa mereka. Sehingga, dengan adanya peringatan hari guru nasional ini diharapkan dapat membawa manfaat dan memberikan hikmah kepada kita semua.
 
Adapun hikmah yang dapat kita petik dari peringatan hari guru nasional ini diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Bahwa ilmu yang telah kita dapatkan tidak serta merta kita dapatkan begitu saja. Akan tetapi tidak lepas dari peran seorang guru;
2. Mengingatkan kita bahwa betapa besar jasa seorang guru kepada kita;
3. Ilmu yang telah kita dapat wajib hukumnya kita realisasikan (amalkan);
4. Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi tinggi terhadap guru, dan melawan lupa terhadap jasa-jasa mereka.


Hymne Guru
Ciptaan : Sartono

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa..

Khususon ilaa jami’il asatidz wal asatidzati, lahumul fatihah..

By : Muhammad Ilfan Sokhib

Sabtu, 11 November 2017

Momuntem Hari Pahlawan Nasional

Momuntem Hari Pahlawan Nasional

Pada waktu itu, bertepatan pada tanggal 10 November 1945 adalah hari dimana sejarah besar bangsa Indonesia tercipta. Bagaimana tidak? pada hari itu bangsa indonesia khususnya arek arek surabaya dengan inisiasi atau penggeraknya adalah Bung Tomo dengan semboyannya “Mati dalam keadaan mulia atau hidup penuh kehinaan” telah menunjukkan sekaligus membuktikan keberanian, cinta, serta rasa kepemilikannya yang mendalam terhadap Indonesia. Sehingga apapun yang mereka miliki, baik itu tenaga, keluarga, darah, bahkan nyawa sekalipun mereka korbankan.

Yang mana atas perjuangan dan pengorbanan mereka, pada hari ini kita bisa bersama-sama menikmati dan bisa bersama-sama merasakan buah sekaligus hasil dari perjuangan dan pengorbanan mereka. Sehingga hari yang bersejarah yang tercipta dari rahim bangsa yang sedang berjuang itu, kini kita kenal sebagai Momentum Hari Pahlawan Nasional. Untuk itu, kita sebagai generasi penerus bangsa, dimana kita hanya tinggal menikmati dan merasakan serta mensyukuri saja tanpa perlu perjuangan dan pengorbanan, harusnya tidak lupa dan tidak buta dengan sejarah besar itu.

Jika kita mem-flasback ulang situasi dan kondisi pada waktu itu, tentu akan sangat jauh berbeda dengan ketika kita melihat situasi dan kondisi pada hari ini. Khususnya situasi dan kondisi dimana semua pemuda dan semua rakyat adalah sedang berjuang, tapi tidak untuk hari ini. 

Terlepas dari itu semua, kita sebagai penikmat sejarah dan bukan pelaku sejarah, seharusnya sadar dengan yang demikian itu. Kita bersama tahu, kita bersama sadar, dan kita bersama faham bahwa tugas kita sekarang adalah hanya mengenang, merawat, dan menjaga sejarah itu agar tetap ada. Itu saja sebenarnya tugas kita hari ini. Kita tidak perlu lagi bersusah payah berjuang dan berkorban seperti para pelaku sejarah pendahulu kita waktu itu. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita tahu, apakah kita sadar, dan apakah kita faham dengan tugas itu? Jika tidak, maka saya pastikan kita bersama adalah penghianat untuk mereka.

Ironis, jika hal itu sampai terjadi.

Dan, lebih ironis lagi ketika pemuda zaman now yang hanya tinggal menikmati jerih payah perjuangan para pahlawan tidak menghargai dan menghormati sama sekali atas jasa-jasa mereka. Contoh real atau fakta di lapangan, diantara kesekian banyaknya pemuda di negeri ini, banyak pemuda yang datang di Monumen-monumen Nasional. Namun, hanya sekedar untuk nongkrong,  foto-foto atau bahkan pacaran di tempat-tempat tersebut. Apakah ini pantas di lakukan? Akan tetapi, ini masih mending (bahasa jawa) daripada yang lupa dan tidak mau sama sekali meluangkan waktunya sejenak untuk berkunjung ke monumen-monumen atau makam para pahlawan untuk sejenak mengenang dan mendoakan mereka. Tapi bukan itu permasalahannya. Tinggal kita mau atau tidak. itu saja sebenarnya. Paling tidak mengenang dan mendoakan mereka setiap kali kita selesai sembahyang.

Sebagai bagian dari bangsa ini, lebih-lebih sebagai seorang pemuda sekaligus sebagai mahasiswa tentu tugas dan tanggung jawab yang ada di pundak kita jauh lebih besar di bandingkan dengan yang lain. Mengapa demikian? Pertama, seorang pemuda adalah aset utama bangsa. Kedua, seorang pemuda adalah kunci atau penentu arah bangsa ini 10-20 tahun ke depan. Ketiga, pemuda adalah estafet kepemimpinan bangsa, karena tidak mungkin kepemimpinan di negeri ini selamanya di pegang ataupun di jalankan oleh orang itu-itu saja. Semisal hari ini Presiden kita adalah Pak Jokowi. Tidak mungkin selamanya beliau yang jadi presiden. Pasti generasi muda lah yang akan menggantikan. Sampai seterusnya. Sampai di struktur pemerintahan paling bawah yaitu di desa. pasti butuh dengan yang namanya regenerasi kepemimpinan.

Selanjutnya, tugas dari seorang mahasiswa adalah kuliah yang aktif dan berorganisasi yang aktif. Itulah tugas mahasiswa. Adapun tanggung jawab seorang mahasiswa adalah: Pertama, sebagai agen perubahan yang mampu membawa dan menjadikan bangsa Indonesia ini menuju lebih baik. Kedua, adalah seseorang yang membawa dan memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Ketiga, mahasiwa adalah seseorang yang di harapkan mampu memberikan cahaya dan pentunjuk bagi mereka. Khususnya bagi masyarakat dimana ia tinggal dan bagi mereka yang membutuhkan.

Yang lebih penting bagi kita sekarang adalah menginternalisasikan semangat juang dan rela berkorban mereka kedalam hati kita. Semisal, bagi yang kuliah, kuliahnya rajin. bagi yang berorganisasi, berorganisasinya aktif. bagi yang bekerja, bekerjanya giat. Dan seterusnya. Karena hal-hal seperti inilah merupakan salah satu cara bagi kita untuk menghargai jasa para pahlawan.

Untuk itu, di hari pahlawan ini, marilah sejenak kita merenung kita mengheningkan cipta dengan khidmat dengan penuh penghayatan bahwa kita adalah pemuda harapan, bahwa kita adalah pemuda yang mempunyai tugas dan tanggung jawab lebih di bandingkan dengan yang lainnya, bahwa kita adalah penentu masa depan bangsa Indonesia ini.


Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2017



Dengan seluruh angkasa raya memuji
Pahlawan negara
Nan gugur remaja diribaan bendera
Bela nusa bangsa

Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga jasa
Kau Cahya pelita
Bagi Indonesia merdeka

Karangan / Ciptaan : T. Prawit

Lahumul Fatihah...

Tulisan Sederhana ini, sebagai bentuk apresiasi saya terhadap para pahlawan. Dan melawan lupa terhadap jasa-jasa mereka.


Oleh :
Muhammad Ilfan Sokhib 


Jumat, 10 November 2017

PESAN-PESAN PAHLAWAN NASIONAL



PESAN-PESAN PAHLAWAN NASIONAL
Jenderal Sudirman
"Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan . met of zonder pemerintah, TNI akan berjuang terus".

Prof DR. R. Soeharto
"Right of Wrong is my country, lebih-lebih kalau kita tahu, negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru saat itu pula kita wajib memperbaikinya".

Prof. Moh. Yamin, SH.
"Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri".

Nasional  Supriyadi.
"Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi".

Teuku Nyak Arif.
"Indonesia merdeka harus menjadi tujuan hidup kita bersama".

Abdul Muis.
"Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang".

Pangeran Sambernyowo KGPAA Mangkunegoro I.
Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki).
Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan).
Mulat sariro hangroso wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab).

Kapiten Pattimura
"Pattimura-pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-pattimura muda akan bangkit".

Silas Papare
"Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjunganku".

Bung Tomo
"Jangan memperbanyak lawan, tetapi perbanyaklah kawan".
"Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah,  yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapapun juga."

Gubernur Suryo
"Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur dari pada dijajah kembali"

Ir. Soekarno
"Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Dan berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya."
"Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka"
"Perjuanganku lebih muda karena mengusir penjajah, tapi perjuangamu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri"
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah"

Moh. Hatta
"Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita"
"Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi."

MULAILAH MENULIS!

MULAILAH MENULIS! Menuangkan ide, pikiran atau gagasan dalam sebuah tulisan memang bukanlah perkara yang mudah. Apalagi bagi mereka ya...