Sebelumnya, saya tegaskan bahwa ini bukan
tulisan saya, saya hanya men-share ulang saja. Karena saya rasa ini
perlu untuk di publikasikan. Saya bukan sengaja menjadi oknum plagiasisme
bahkan oknum provokatifisme akan tetapi saya tekankan sekali lagi, ini
adalah bukan tulisan saya dan tulisan ini bagi saya penting untuk di
baca. terutama untuk membuka fikiran dan menambah wawasan kita. untuk
itulah tulisan ini saya publikasikan dan saya mengajak kepada pembaca yang budiman mari kita buka fikiran kita dan kita telaah bersama-sama isi atau substansi tulisan di bawah ini.
Perlu di ketahui, ini adalah hasil buah
pemikiran KH. Agus Sunyoto ketika menghadiri bedah buku “Fatwa &
Resolusi Jihad” di Pondok Pesantren Lirboyo waktu itu.
Membongkar
Fakta Sejarah Hari Pahlawan 10 November
dan Resolusi
Jihad 22 Oktober yang Disembunyikan
Banyak orang yang tidak paham fakta adanya fatwa
resolusi jihad 22 Oktober 1945 karena tidak ditulis dalam buku sejarah di
sekolah. Ada apa sebenarnya?
Sejarah pertempuran 10 November, awalnya tidak ada
yang mau mengakui fatwa & resolusi jihad itu pernah ada. Tulisanya Prof.
Ruslan Abdul Gani, yang ikut terlibat, resolusi jihad disebut tidak pernah ada.
Bung tomo yang pidato teriak-teriak, dalam bukunya
juga tidak pernah menyebutkan bahwa fatwa & resolusi jihad pernah ada.
Laporan tulisan mayor Jendral Sungkono juga tidak menyebut pernah ada fatwa
& resolusi jihad.
Karena itu banyak orang menganggap fatwa &
resolusi jihad itu hanya dongeng dan ceritanya orang NU saja. “Di antara elemen
bangsa Indonesia yang tidak memiliki peran dan andil dalam usaha kemerdekaan
dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren
hususnya NU”.
Itu kesimpulan seminar nasional di perguruan tinggi
negeri besar di Jakarta tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia
pada tahun 2014. Bahkan dengan sinis salah seorang menyatakan, “Organisasi PKI,
itu saja pernah berjasa. Karena pernah melakukan pemberontakan tahun 1926 melawan
Belanda. NU tidak pernah”. Aneh.
Pandangan ini juga pernah dianut oleh tokoh-tokoh
LIPI. Gus Dur juga mengkonfirmasi kalau sejarah ulama dan Kyai memang sudah
lama ingin dilenyapkan. Tahun 1990 ada peringatan 45 tahun pertempuran 10
November. Yang jadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November diumumkan dari
golongan itu.
Yakni orang terpelajar yang berpendidikan tinggi.
Nama-nama mereka muncul tersebar di televisi, koran, dan majalah. “Itu
ceritanya, 10 November yang berjasa itu harusnya Kyai Hasyim Asy'ari dan poro
Kyai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu wong-wong sosialis?”. Itu komentar Nyai
Sholihah, ibu Gus Dur.
Dari situlah Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu
Gus Dur klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua & senior di kalangan kelompok
sosialis, mengenai 10 November. Sambil ketawa-ketawa mereka menjawab, “Yang
namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang, Gus. Bahwa sejarah sudah
mencatat, orang bodoh itu makanannya orang pintar”.
“Yang berjasa orang bodoh, tapi yang jadi pahlawan
wong pinter. Itu biasa, Gus”, katanya kepada Gus Dur. Gus dur marah betul
dibegitukan. Sampai tahun 90-an NU masih dinganggap bodoh mereka. Tahun 91, Gus
Dur melakukan kaderisasi besar-besaran anak muda NU.
Anak-anak santri dilatih mengenal analisis sosial
(ansos) dan teori sosial, filsafat, sejarah, geopolitik, & geostrategi.
Semua diajari. Supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan kemudian berkembang hingga
kini. “Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu. karena itu agak
faham”, kata KH. Agus Sunyoto.
Saat penulis sejarah Indonesia menyatakan fatwa dan
resolusi jihad tidak ada, KH. Agus Sunyoto menemukan tulisan sejarawan Amerika,
Frederik Anderson. Dalam tulisanya tentang penjajahan jepang di Indonesia thn
42 sampai 45, ia menulis begini:
22 Oktober 1945 pernah ada resolusi jihad yg
dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya. Tanggal 27
Oktober, Koran Kedaulatan Rakyat juga memuat lengkap resolusi jihad. Koran
Suara Masyarakat di Jakarta, juga memuat resolusi jihad.
Peristiwa ini ada, sekalipun wong Indonesia tidak mau
menulisnya, karena menganggap NU yang mengeluarkan fatwa sebagai golongan
lapisan bawah. Sejarah dikebiri. Dokumen-dokumen lama yang sebagian besar
berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jepang, dan sebagainya, dibongkar.
Patahlah semua anutan doktor sejarah yang menyatakan
NU tidak punya peran apa-apa terhadap kemerdekaan.
Ketika Indonesia pertama kali merdeka 45, kita gak
punya tentara. Baru dua bulan kemudian ada tentara. Agustus, September,
lalu pada 5 Oktober dibentuk tentara keamanan rakyat (TKR). Tanggal 10 Oktober
diumumkanlah jumlah tentara TKR di Jawa saja. Ternyata, TKR di Jawa ada 10
divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit. Terdiri atas 3 resimen dan 15
batalyon.
Artinya TKR jumlahnya ada 100.000 pasukan. Itu TKR
pertama. Yang nanti menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama
Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih
Kyai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat
resimen Kyai juga yang memimpin.
Fakta, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH.
Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon
pun banyak komandan Kyai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor
KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah NU Kabupaten
Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada Sekretariat Negara dan TNI.
Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak
SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran Kyai. KH. Hasyim Asy'ari yang ditetapkan
pahlawan oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para Kyai dan santri
memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.
Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada duit
untuk bayar tentara. Hanya paro Kyai dengan santri-santri yang menjadi tentara
dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya paro Kyai, dengan
tentara-tentara Hizbulloh yang mau korban nyawa tanpa dibayar. Sampai sekarang
pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, ya gak dibayar. Wkwkwk
Tentara itu baru menerima bayaran pada tahun 1950.
Selama 45 sampai perjuangan di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar
negara. Kalau mau mikir, 10 November Surabaya adalah peristiwa paling aneh
dalam sejarah. Kenapa? Kok bisa ada pertempuran besar yg terjadi setelah perang
dunia selesai 15 Agustus.
Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4
hari di Surabaya. Tanggal 26, 27, 28, 29 oktober 1945. Kok ‘ujug-ujug’ muncul
perang 4 hari ini ceritanya gimana? Jawabnya : Karena sebelum tanggal 26
Oktober, Surabaya bergolak, setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada
tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sbg Hari Santri.
Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berfikir
akan perang dan bertempur dg penduduk Surabaya. Perang selesai kok. Begitu
pikirnya. Tapi karena masarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad,
mereka siap nyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Sejarah
inilah yang selama ini ditutupi.
Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca
sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’.
Ngapain Ngebomi kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian ini
dari resolusi jihad, baru masuk akal. “Oya, marah mereka karena jenderal dan
pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”.
Fatwa Jihad muncul krn Presiden Soekarno meminta fatwa
kepada PBNU: apa yg harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh
mengingat Belanda ingin kembali menguasai. Bung Karno juga menyatakan bagaimana
cara agar Negara Indonesia diakui dunia. Sejak diproklamasikan 17 Agustus dan
dibentuk 18 Agustus, tidak ada satupun negara di dunia yang mau mengakui.
Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai Negara
boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut
sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu
dimunculkan oleh PBNU. Gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak
diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap perang.
Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan.
“Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah
beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris
malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang
ditumpuk & diisi senapan mesin.
“Lho, ini apa maunya Inggris. Kan sudah tersiar kabar
luas kalau Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara
Inggris”, begitu kata arek-arek. Pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang
massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar ‘nawur’ pasukan inggris.
“Ayo ‘tawur..tawuran..’!”.
Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tp
tawuran. Kenapa? Gak ada komandanya, gak ada yg memimpin. “Pokoke wong krungu
jihad.. jihad… Mbah hasyim.. Mbah hasyim…”. Berduyun-duyun, arek2 Suroboyo
sudah, keluar rumah semua dan langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’
dan itu berlangsung 27 Oktober.
Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim itu
disiarkan lewat langgar-langgar, masjid-masjid, dan spiker-spiker. Pada 28
Oktober, tentara ikut arus arek2, ikut gelut dengan Inggris. Massa langsung
dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini, 1000 lebih tentara Inggris
mati dibunuh.
Tapi tentara tidak mau mengakui, karena Indonesia
meski sudah merdeka, belum ada yang mengakui. Itu jadi urusan besar tingkat
dunia jika ada kabar tentara Indonesia bunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut
campur. Negara belum ada yang mengakui kok sudah klaim bunuh tentara Inggris.
Itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo kabeh.
Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi.
Inggris akhirnya mendatangkan presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad
Hatta utk mendamaikan. 35. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai
tidak saling tembak-menembak. Yang tanda tangan Gubernur Jatim juga. Sudah
damai, tapi massa kampung tidak mau damai.
Pada 30 Oktober, akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby
digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak,
mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui
oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh
Indonesia. Aneh, jenderal mati tp disembunyikan sebabnya karena malu.
Inggris marah betul. Masa negara kolonial kalah.
Mereka malu & bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok
diserang, jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya? “Kalau sampai tanggal 9
Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu
orang-orang surabaya masih yang memegang bedil, meriam dst. tidak menyerahkan
senjata kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya
akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara," begitu amuk jenderal
tertinggi Inggris.
Datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan
Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula
meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat
tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau
dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.
Pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim
yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar
kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. “Fardhu a'in bagi semua umat Islam
yang berada dalam jarak 94 kilo dari Kota Surabaya untuk membela Kota
Surabaya”. 94 kilo itu- jarak dibolehkannya solat qoshor.
Wilayah Sidoarjo, Kediri, Mojokerto, Malang, Pasuruan,
Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilo. Dari Kediri, Lirboyo
ini datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar
biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilo datang- ke Surabaya ikut seruan
jihad PBNU.
Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama
juga ikut perang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut jihad. Selain
Mallaby, pertempuran di Surabaya Brigadir jendral: Loder Saimen. Luar biasa
pengorbanan arek-arek Surabaya, para Kyai, dan santri. Tapi lihat, apa yg
dilakukan pemerintah di kemudian hari kepada para Kyai ini? Dimanipulasi.
Demikian kultweet #dutaislam.com dari KH. Agus
Sunyoto saat menghadiri bedah buku "Fatwa dan Resolusi Jihad" di
Pondok Pesantren Lirboyo 3 November 2017.
Selamat Hari Pahlawan!
#KyaiPahlawanku #HariPahlawan #IslamNusantara
#NahdlatulUlama #PondokPesantren #KyaidanSantri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar